Mengungkap Hari Kesaktia Pancasila pada G30/SPKI

Diposting oleh Unknown

Pada hari ini tanggal 30 September 2012, genap sudah 47 tahun kita mengenang kembali tragedy 1965 sebagai tragedy kemanusiaan terbesar di Indonesia. Peringatan ini tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit dendam, membuka luka-luka lama, melampiaskan kemarahan, mengumbar hujatan, menyebar kebencian atau mengipasi permusuhan melainkan untuk mengajak bangsa kita untuk menjunjung tinggi-tinggi perikemanusiaan, memupuk rasa persaudaraan, meng-hormati perasaan keadilan, menghormati hukum dan hak asasi manusia demi kebaikan bersama seluruh bangsa

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi setelah Suharto melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah dibawah Presiden Sukarno. Selama 32 tahun rezim Soeharto berkuasa, masyarakat telah dikelabui dengan informasi dan sejarah yang melegitimasi tindakan kebiadaban rezim orde baru terutama atas terjadinya pembantaian sebagaimana pengakuan Sarwo Edhie Wibowo “seba-nyak tiga juta orang terbunuh dalam peristiwa 1965”. Terjadinya penangkapan, penahanan dan wajib lapor terhadap puluhan ribu orang selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tanpa pernah menjalani proses hukum dan peradilan dengan tuduhan “terlibat PKI”. Jutaan rakyat kehilangan harta benda karena dirampas, anak istri diperkosa, pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh instansi pemerintah (PNS), TNI, BUMN, perkebunan tanpa pernah diberikan pesangon, pemberangusan hak untuk berkarya, tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak bersih lingkungan dan diskriminasi yang terus terjadi hingga kini.

Stigma PKI yang diberikan oleh rezim orde baru dengan memberi label pada KTP sebagai OT/ET dan anak keturunan dinyatakan tidak bersih lingkungan membuat anak - keturunan korban sulit mendapatkan pekerjaan dan kehilangan hak untuk menjadi Pegawai Negeri, TNI dan Polri dan membuat korban peristiwa 1965 menjadi warga kelas dua (marginalisasi). Kehidupan para korban sejak tahun 1965 seperti mati suri, karena walaupun kami hidup tapi negara tidak memberikan kami ruang untuk hidup layak dan selalu didiskriminasi lewat berbagai kebijakan yang dibuat oleh negara. Hak-hak sipil & politik serta hak-hak ekonomi dan sosial budaya yang dilindungi oleh Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia dan UUD ‘45 tidak dapat kami nikmati karena tidak adanya perlindungan yang diberikan oleh Negara. Ironisnya, malah Negara mengeluarkan berbagai peraturan yang mencabut hak-hak dasar kami sebagai warga Negara dengan alasan “terlibat langsung atau tidak langsung dalam peristiwa 1965" tanpa pernah secara terbuka lewat hukum membuktikan keterlibatan para korban 1965.

Walaupun peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah berlalu empat puluh tahun yang lalu dan dikenal sebagai tragedi terbesar di Indonesia pasca kemerdekaan namun upaya yang dilakukan oleh negara untuk menyelesaikan permasalahan ini masih sangat minim, padahal akibat peristiwa ini puluhan juta rakyat mengalami diskriminasi dan dianggap sebagai penghianat bangsa karena tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia oleh rezim otoriter Soeharto.

Pergantian rejim yang berkuasa di era transisi demokrasi belum memiliki kemauan politik untuk melakukan pelurusan sejarah atas tragedi ini sehingga pelanggaran Hak Azasi Manusia terhadap jutaan rakyat korban tragedi ‘65 hingga kini masih terabaikan. Bahkan pemerintah Indonesia mempolitisir tuntutan para korban tragedi politik 1965, dengan menggunakan UU No.27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang isi dan hakekatnya melegitimasi stigma yang dibangun oleh rejim otoriter Soeharto selama 32 tahun berkuasa.

Politik Indonesia masih condong kepada kepentingan elit politik dan belum bergerak kepada kepentingan rakyat. Hal ini dapat kita lihat dari UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang menjadikan hak-hak korban “barter” dengan pemberian maaf kepada pelaku. Pemberian amnesti oleh negara menjadi penentu terhadap pemberian kompensasi dan rehabilitasi terhadap para korban, dan ini memperlihatkan negara lebih melindungi kepentingan para pelaku pelanggaran HAM bukan kepentingan korban yang sudah lama menderita.

Peristiwa 1965 hendaknya memberikan pelajaran berharga bagi bangsa kita untuk membangun relasi yang lebih baik antara warga bangsa yang saat ini tersekat-sekat dengan prasangka dan kebencian. Fragmentasi sosial yang saat ini kita rasakan adalah buah dari kebencian dan prasangka yang terus menerus direproduksi. Amnesia massal akibat versi tunggal sejarah yang terus menerus dipelihara sudah saatnya dihentikan agar bangsa kita kembali bangkit menjadi bangsa yang beradap dimana kekerasan tidak lagi mendapatkan tempat yang penting dalam budaya bangsa. Marilah kita bangun kembali bangsa ini menjadi bangsa yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi dan keadilan sebagai tonggak nilai budaya bangsa dimasa mendatang.

Dengan alasan-alasan diatas maka kami KOMITE AKSI KORBAN PELANGGA-RAN HAM PERISTIWA 1965 (KKP-HAM ’65) dengan ini menyatakan sikap :

1. Menuntut pertanggungjawaban dan pengakuan Negara atas terjadinya peristiwa pembantaian massal peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan meminta maaf kepada korban maupun keluarganya ;

2. Adili Suharto selaku pihak yang sangat bertanggung jawab atas pembantaian jutaan rakyat Indonesia tahun 1965-1968 ;

3. Lakukan pelurusan sejarah yang sudah diputar balikkan selama 40 tahun dan menarik seluruh dokumen, arsip, buku, film, dll yang melakukan pembodohan terhadap rakyat;

4. Memberikan rehabilitasi umum kepada seluruh korban pelanggaran HAM berat masa lalu ;

5. Mencabut semua produk undang-undang yang bersifat diskriminatif dan mengebiri hak-hak sipil dan politik, ekonomi, sosial dan budaya para korban persitwa 1965 ;

Pengalaman Etis?

: GADIS ARIVIA

Hidup beretika tidaklah sulit dipahami. Keputusan etis berkait erat dengan konsep-konsep seperti "keadilan", "hak", "kewajiban", "kebaikan", dan "kebena-ran". Namun, manusia lalu mempersulit konsep-konsep ini dengan berbagai argumentasi yang "tidak adil", "tidak berhak", "tidak baik", dan "tidak benar".

Manusia dapat melakukan keputusan etis yang membutuhkan kepekaan akan bahasa? Kepekaan menangkap getaran, ekspresi, dan bahasa "lain" yang muncul. Bahasa "lain" yang diutarakan dari mereka yang tertekan, tertipu, tersakiti membutuhkan perangkat ekstra untuk mendengarkan. Apa itu?

Heidegger dalam Letter on Humanism (1946) menggarisbawahi keterbukaan (atau responsiveness). Tiap bahasa yang digunakan membentuk, memberi, memasok cara berpikir, melihat, menjadi diri yang terus dihadapkan berbagai bahasa yang mempunyai masing-masing "kekuasaan" di belakangnya.

Dengan keterbukaan, segala bentuk kekuasaan dapat diperiksa ulang, diper-tanyakan ulang, direnegosiasi hingga akhirnya pengalaman etis tercapai. Hal inilah yang saya lakukan dengan membuka hati guna mendengarkan kisah-kisah pilu para ibu yang pernah dipenjara tanpa sebab. Simak film dokumenter Kado untuk Ibu (Syarikat Indonesia, 2005).

Yang dibisukan

Tahun 1965, Ibu Sumilah baru berusia 14 tahun, saat diambil dari keluarganya, ia diangkut dengan truk berisi 48 orang ke penjara Wirogunan. Ia lalu dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Plantungan di pegunungan Dieng, Jawa Tengah, dan tinggal di sana hingga tahun 1971.

Dibebaskan karena ada kekeliruan. Tanpa pernyataan maaf, tanpa ada rehabilitasi nama, stigma eks tapol menghantui dirinya seumur hidup. Ibu Sumilah tidak sendirian. Juga ada ibu Fatmiati yang disiksa karena tidak mengaku sebagai anggota Gerwani. Ia menolak untuk mengakui perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ia pun dijebloskan ke LP Plantungan, tempat yang pernah dipakai untuk kamp isolasi penyakit lepra di tahun 1957.

Dengan ibu Putmainah. Ia ditangkap karena anggota Gerwani. Dikatakan, organisasi ini bertujuan memberdayakan perempuan Indonesia dengan menye-lenggarakan aneka kegiatan pendidikan tentang cara mengasuh anak, pengetahuan gizi, dan hak-hak perempuan. Hak-hak perempuan yang dibela adalah yang telah diabaikan para suami yang meninggalkan mereka. Memberi penguatan sesama perempuan dan mencari peluang usaha untuk menyambung ekonomi keluarga.

Organisasi ini tidak beda dengan PKK, yang memerhatikan kesejahteraan keluarga. Entah mengapa, mereka dituduh melakukan Operasi Harum Bunga terlibat pembunuhan para jenderal. Bahkan, di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya anggota Gerwani digambarkan menari-nari di atas penyiksaan para jenderal. Akhirnya, anggota Gerwani diburu, dipenjara, dan dibunuh.

Kekerasan negara

Dan pemerkosaan adalah bentuk paling populer kekerasan negara terhadap perempuan. Kekerasan negara didefinisikan sebagai bentuk agresivitas aparat atau pengelola negara atas masyarakat sipil. Mengapa terhadap perempuan pelecehan dan pemerkosaan merupakan praktik ampuh? Pelecehan dan pemerkosaan dianggap sulit untuk dituntut apalagi bila digunakan saat negara dalam keadaan darurat.

Keadaan seperti itu, pelecehan dan pemerkosaan dianggap ekses sehingga dinilai wajar. Masalah lain, sulitnya mengungkap kasus-kasus itu karena korban risih membicarakannya secara publik. Bagi militer, situasi ini amat menguntung-kan. Bila masyarakat menganggapnya sebagai wilayah privat, berarti paling jauh dihubungkan dengan penyimpangan tingkah laku individu, cukup dihukum secara personal.

Special Rapporteur menegaskan, kekerasan terhadap perempuan dipakai sebagai alat represi politik seperti layaknya senjata perang. Target pelecehan dan pemerkosaan ditujukan kepada aktivis perempuan, anggota kelompok oposisi, atau keluarga yang tergolong kelompok yang dianggap radikal dan membahaya-kan stabilitas negara.

Yang terjadi pada Sumarmiyati di Plantungan. Ia digunduli, ditelanjangi, di-"gerayang", dan dipaksa mencium kelamin para aparat.

Bangsa yang terluka

Terjadi pada para korban di Plantungan pada tahun 1965- 1966 merupakan tragedi yang menimpa suatu bangsa. Ingatan kolektif ini tidak mudah dilupakan, meninggalkan kepedihan mendalam baik bagi generasi masa lalu maupun generasi ke depan.

Ricoeur (2000) menegaskan, mengingat menjadi tugas yang harus dipenuhi. Menghidupkan ingatan sosial bukan untuk menaruh dendam dan benci pada kebrutalan kelompok tertentu di masa lalu, tetapi lebih membangun proyek perdamaian dan berusaha tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu.

Bangsa hanya dapat dipulihkan bila terjadi keterbukaan untuk menerima bahasa-bahasa "lain" yang telah lama dibungkam. Keterbukaan menghasilkan kehidupan lebih jujur dan adil guna membentuk pengalaman etis bersama.


Ceko Bongkar Konspirasi di Balik Kudeta PKI 1965

Minta Habisi dengan Sekali Pukul

447 halaman Kudeta 1 Oktober 1965 yang ditulis ilmuwan Ceko, Victor Miroslav Vic, mengungkap detail teori konspirasi di balik kudeta berdarah PKI 40 tahun lalu. Terutama tentang peran Ketua Partai Komunis China Mao Zedong.

Jakarta

Pesawat kepresidenan Jetstar yang membawa Presiden Soekarno dan 80 anggota rombongan, termasuk Ketua CC (Committee Central) PKI Dipo Nusantara (D.N.) Aidit, meninggalkan tanah air menuju Aljazair guna menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) II. Pesawat transit di Kairo, Mesir, 26 Juni 1965.

Ada kabar bahwa Presiden Aljazair Ben Bella dikudeta. KAA pun ditunda hingga 5 November 1965. Bung Karno kemudian memutuskan pulang ke tanah air. Sedangkan rombongan kecil yang dipimpin Aidit melawat ke Peking (Beijing), China. Salah satu di antara mereka adalah Nyono.

Di tanah air, penyakit ginjal Bung Karno kambuh lagi. Tim dokter China yang merawat Bung Karno sejak 1960 mendiagnosis bahwa kali ini penyakitnya makin gawat. Bahkan, tim dokter China itu memperkirakan, sewaktu-waktu jika penyakit Bung Karno kambuh lagi nyawanya tak tertolong. Keadaan ini makin mematangkan rencana PKI mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yakni, dengan menyingkirkan rival utamanya lebih dahulu: para jenderal TNI AD.

Kesehatan Bung Karno itu terlihat dari perintah pemanggilan mendadak Aidit dan Nyono oleh sang pemimpin besar revolusi itu lewat Menlu Soebandrio. Keduanya diminta segera pulang ke tanah air. Lewat kawat, Aidit menjawab akan pulang pada 3 Agustus 1965.

4 Agustus 1965, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dia tiba-tiba muntah-muntah sebanyak 11 kali, ditambah hilang kesadaran empat kali. Dokter kepresidenan, Dr Mahar Mardjono, pun mendadak dipanggil ke kamar Bung Karno di Istana Negara. Saat itu sudah ada tim dokter China.

Diduga keras ternyata diagnosis dokter China tadi berkaitan erat dengan rencana PKI mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Rencana ini muncul setelah Aidit bertemu Mao Tze Tung (Mao Zedong) di China. Sebab, posisi Bung Karno sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi Angkatan Bersenjata sangat menentukan arah politik Indonesia.

Sampai Bung Karno mangkat, sudah bisa ditebak akan terjadi perebutan kekuasaan antara PKI dan TNI-AD. Saling mendahului dan saling jegal antara kekuatan saat itu sangat mewarnai politik Indonesia 1965. "Ternyata diagnosis tim dokter China terbukti keliru. Sebab, Bung Karno baru meninggal tujuh tahun kemudian," ungkap Ketua LIPI Taufik Abdulah dalam bedah buku di Yayasan Obor yang menerbitkan buku karya Miroslav kemarin.

Lain yang menguatkan bahwa PKI akan mengambil alih kekuasaan di Indonesia terekam dalam pembicaraan Ketua Partai Komunis China Mao Tze Tung dan Ketua CC PKI DP Aidit yang menemuinya Zhongnanghai, sebuah perkampungan dalam dinding-dinding kota terlarang di China.

"Kamu harus mengambil tindakan cepat," kata Mao kepada Aidit.

"Saya khawatir AD akan menjadi penghalang," keluh Aidit ragu-ragu.

"Baiklah, lakukan apa yang saya nasihatkan kepadamu; habisi semua jenderal dan perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu," ungkap Mao berapi-api.

"Itu berarti membunuh beratus-ratus perwira," tanya Aidit lagi.

"Di Shensi Utara, saya membunuh lebih dari 20 ribu orang kader dalam sekali pukul saja," tukas Mao.

Menemui Mao, Aidit disertai dua dokter China, Dr Wang Hsing Te dan Dr Tan Min Hsuen (salah satu di antaranya diyakini Miroslav sebagai perwira intelijen China) terbang ke Jakarta guna mendeteksi kesehatan Bung Karno. Pada 7 Agustus 1965, mereka menghadap Bung Karno di Istana Merdeka.

8 Agustus 1965, Aidit kembali menemui Bung Karno di Istana Bogor untuk berbicara empat mata. Menurut Miroslav, saat bertemu secara pribadi dengan Bung Karno itulah, Aidit melaporkan hasil pembicaraannya dengan Mao Tze Tung. Misalnya, advis untuk menyingkirkan jenderal AD yang tidak loyal kepada presiden (baca dewan jenderal sebutan PKI bagi jenderal AD).

Sadar benar tidak mudah menyingkirkan para jenderal AD tanpa payung kekuasaan Soekarno. Kedua, membentuk Kabinet Gotong Royong dengan PKI sebagai pemegang kendali (dengan memasukkan para kadernya). Ketiga, setelah semua misi itu sukses, diam-diam PKI menyiapkan strategi untuk menyingkirkan Bung Karno secara halus. Caranya, China menawari Bung Karno untuk istirahat panjang di sebuah vila dekat Danau Angsa, China, guna mengobati penyakitnya.

"Itu sebenarnya cara licik Aidit dan Mao untuk menyingkirkan Bung Karno dari kekuasaannya setelah melapangkan jalan PKI mengambil alih kekuasaan," ungkap Miroslav.

Itu pernah diterapkan Mao kepada Raja Kamboja Pangeran Norodom Sihanouk. Setelah China berhasil mengomuniskan Kamboja lewat Pol Pot. Giliran Jenderal Lon Nol mengudeta Sihanouk saat berkunjung ke Moskow. Saat Kremlin (baca Uni Sovyet) menolak memberikan suaka kepada Sihanouk, China dengan senang hati menawarkan tempat tinggal dan perawatan yang wah bagi Sihanouk. "Istrinya, Princess Monica, sangat menikmati pemberian China tadi," tambah Miroslav.

Hasil rekonstruksi kejadian yang dibuat Miroslav, Bung Karno tampaknya sejalan dengan rencana Mao. Terbukti, lanjut Miroslav, Bung Karno memanggil Brigjen Subur, Komandan Resimen Tjakrabhirawa, dan Letkol Untung ke kamar tidurnya untuk bertanya pada mereka.

"Apakah dia (Untung) cukup berani menangkap para jenderal yang tidak loyal kepada presiden dan menentang kebijakannya?" tanya Bung Karno.

"Saya akan melakukan kalau diperintahkan," jawab Untung saat itu.

Ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Taufik Abdullah mengatakan, kevalidan sejarah seperti itu memang perlu diuji. Tapi, boleh jadi dugaan keras Miroslav tersebut ada benarnya.

Membuat tamsil, ada sepasang pengantin masuk rumah. Saat keluar wajahnya terlihat lusuh. Orang bisa menduga, pasangan pengantin itu baru melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri. Tapi, tidak ada yang tahu persis. "Bisa juga wajah yang tampak loyo itu disebabkan mereka habis membersihkan rumah," ujar Taufik.

"Miroslav pantas menduga kuat bahwa pembicaraan Aidit dan Bung Karno di kamar tidurnya adalah soal isi pertemuan Aidit dengan Mao," tambah Taufik.

Tze Tung, lanjut Miroslav, semula ingin menggandeng Bung Karno untuk menan-capkan kekuasaan PKI di Indonesia. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno dinilai bukan sosok pemimpin yang cocok. Dia dianggap terlalu sembrono dan pembawaannya meledak-ledak. Tapi, Mao tetap membutuhkan Bung Karno untuk mengantarkan PKI berkuasa di Indonesia.

Pembawaan yang meledak-ledak tersebut pernah dilaporkan Menlu China Marsekal Chen Yi saat menemui Bung Karno, 3 Desember 1964. Ketika itu, Bung Karno menuntut China agar membagi teknologi nuklirnya dengan Indonesia. Bung Karno juga mendesak uji nuklir dilakukan di wilayah Indonesia. Tujuannya, memberi dampak psikologis kepada kawan dan lawan Indonesia. Tapi, Chen Yi menolak karena itu terlalu berbahaya. Bung Karno kontan naik pitam. "Sambil menggebrak meja, Bung Karno berdiri menudingkan telunjuknya ke arah Chen Yi," ungkap Miroslav.

Keragu-raguan Mao Tze Tung tersebut, akhirnya China menunda pengiriman 100 ribu pucuk senjata untuk angkatan kelima (baca buruh dan tani) seperti dijanjikan sebelumnya. Sebagai gantinya, Mao hanya mengirimkan 30 ribu pucuk senjata lewat beberapa kapal guna menghadapi jenderal AD yang reaksioner. Tapi, itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, Mao minta presiden melapangkan jalan PKI menguasai Indonesia. "Soal perjanjian rahasia itu terungkap dalam surat Aidit 10 November 1965 yang dikirim ke Bung Karno," terang Miroslav.

Intelijen yang dibangun PKI terus mengintesifkan pembicaraan dengan penguasa komunis China guna mempersiapkan pengambialihan kekuasaan di Indonesia. Kontak Aidit-Mao maupun Soebandrio-Chen Yi makin intensif menjelang pengambilalihan yang ternyata gagal itu.

Sejarah pun mencatat: pada 30 September 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI-AD oleh pasukan Cakrabhirawa. Mereka lalu dibawa ke Lubang Buaya untuk dimakamkan.

Itu sekaligus pukulan balik bagi PKI. Pangkostrad Mayjen Soeharto berhasil mengorganisasikan berbagai kekuatan anti-PKI untuk memukul balik lawannya. Soeharto akhirnya menjadi penguasa Orba selama 30 tahun lebih.

Korban Pelanggaran HAM 1965 Tuntut Pencabutan UU KKR

Kompas - Ratusan korban pelanggaran hak asasi manusia pasca-peristiwa G30S/ PKI tahun 1965 se-Sumatera Utara menuntut pencabutan Undang-Undang Nomor 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Korban yang berunjuk rasa di halaman Gedung DPRD Sumut, Jumat (30/9), itu juga menuntut pencabutan semua produk hukum yang diskriminatif terhadap hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia.

Bekas tahanan politik dari berbagai daerah di Sumut, seperti Simalungun, Dairi, Asahan hingga Medan, ini meminta pertanggungjawaban negara atas terjadinya peristiwa pembantaian massal setelah peristiwa G30S 1965. ¡¨Kami hadir di sini bukan untuk menghidupkan komunisme, apalagi membangkitkan Partai Komunis Indonesia. Kami hanya ingin hak-hak kami sebagai warga negara dikembalikan,¡¨ ujar salah seorang demonstran.

Menilai UU KKR tidak berpihak kepada korban. Mereka menuntut UU tersebut dicabut dan diganti dengan UU yang lebih memihak kepada korban. ¡¨Isi UU tersebut hakikatnya melegitimasi stigma yang dibangun rezim otoriter di bawah kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun. UU tersebut menjadikan hak-hak korban dibarter dengan pemberian maaf kepada para pelaku. Negara lebih melindungi kepentingan para pelaku pelanggaran, bukan kepentingan korban yang sudah lama menderita,¡¨ ujar Saurma, aktivis Bakumsu, yang mendampingi korban.

Pengunjuk rasa satu per satu juga menuturkan pengalamannya selama menjadi tahanan politik tanpa sekali pun diadili di pengadilan resmi. ¡¨Saya ditangkap dan dibawa ke penjara di Pematang Siantar. Tiga bulan saya mendekam di sana dan diperlakukan sangat tidak manusiawi. Kami harus makan nasi dicampur pasir. Tidak sekali pun saya dibawa ke pengadilan,¡¨ ujar Galiam Sitohang (67), bekas anggota Serikat Buruh Kendaraan Bermotor (SBKB).

Menuturkan, beberapa hari setelah meletus peristiwa G30S di Jakarta, dia yang bekerja di Pematang Siantar ditangkap tentara karena keanggotaannya di SBKB. Galiam bahkan tidak tahu jika SBKB tersebut berafiliasi dengan PKI. „Mana kami tahu kalau SBKB itu bagian dari PKI. Saat itu kami bekerja saja dan tidak tahu politik,“ ujar dia.

Berbulan-bulan ditahan tanpa pengadilan, membuat dia harus tercerai-berai dengan keluarganya di kampung, Mariah Bahjambi, Kabupaten Simalungun. „Saat ditahan keluarga saya tinggal di desa. Setelah tiga bulan keluar dari penjara, penderitaan kami juga tidak berakhir. Karena tidak mungkin bekerja lagi, kami terpaksa ikut kerja paksa di daerah Kisaran, hanya untuk bisa bertahan hidup“ tutur Galiam.

40 tahun setelah peristiwa tragis tersebut, dia bersama rekan-rekannya kembali memperjuangkan hak-haknya. Mereka yang tergabung dalam Komite Aksi Korban Pelanggaran HAM Peristiwa 1965 Sumut ini belum diperlakukan layak.
More about → Mengungkap Hari Kesaktia Pancasila pada G30/SPKI

Sejarah 1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila

Diposting oleh Unknown

1 Oktober di Indonesia diperingati sebagai hari kesaktian pancasila. Peringatan Kesaktian Pancasila ini berakar Pada sebuah peristiwa tanggal 30 September 1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.
Hari itu, enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun konon berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan.
Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa kemunculan peringatan Kesaktian Pancasila disebabkan oleh gagalnya misi kaum Komunis mengganti dasar negara Indonesia. Karena kegagalan itulah selanjutnya Pancasila dianggap sakti, atau justru Pancasila kemudian dibikin sakral dan dianggap sakti.
Pancasila secara de yure dan de facto memang merupakan dasar negara Republik Indonesia resmi. Beberapa dokumen penetapannya ialah :
  • Rumusan Pertama : Piagam Jakarta - tanggal 22 Juni 1945

  • Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar - tanggal 18 Agustus 1945

  • Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat - tanggal 27 Desember 1949

  • Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara - tanggal 15 Agustus 1950

  • Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)
Entah secara kebetulan atau tidak, ternyata Pancasila merupakan ajaran moral agama Budha. Dalam sebuah referensi disebutkan bahwa Pancasila merupakan filosofi negara Indonesia yang istilahnya diambil dari bahasa Sansakerta yang berarti lima tingkah laku baik. Pancasila sendiri merupakan ajaran dasar moral agama Budha, dimana ajaran tersebut dianut oleh pengikut Siddharta Gautama.
Di Dalam agama Budha, mentaati Pancasila dianggap sebagai sebuah Dharma. Dharma yaitu suatu jalan kehidupan yang berlandaskan kebenaran dalam filsafat agama-agama (seperti kebenaran pluralisme).
Dharma Pancasila sendiri berisi ajaran-ajaran:
  1. untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan) guna mencapai samadi.

  2. untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan) guna mencapai samadi.

  3. untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah, menggauli suami/istri orang lain, nilai keluarga) guna mencapai samadi.

  4. untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar / berbohong, berdusta, fitnah, omong-kosong (nilai kejujuran) guna mencapai samadi.

  5. untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan) guna mencapai samadi.
Dalam bahasa Pali, isi Pancasila tersebut disebutkan sebagai berikut:
  1. Pānātipātā veramani sikkhapadam samādiyāmi

  2. Adinnādānā veramani sikkhapadam samādiyāmi

  3. Kāmesu micchācāra veramani sikkhapadam samādiyāmi

  4. Musāvāda veramani sikkhapadam samādiyāmi

  5. Surā meraya majja pamādatthānā veramani sikkhapadam samādiyāmi
Bahasa Pāli (पाऴि) adalah sebuah bahasa Indo-Arya dan merupakan sebuah bahasa prakerta atau prakrit. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa pengantar Sang Budha saat menerangkan ajarannya. Bahasa yang dipakai dalam kitab suci Tipitaka atau Tripitaka (lih. Wikipedia).
Jadi, secara umum, penulis dapat menarik suatu benang merah dan simpulan bahwa terminology Pancasila lebih tepat dikatakan berasal dan berakar pada ajaran agama Budha bukan pada akar kepribadian bangsa Indonesia secara umum.
Lantas, kenapa Pancasila dianggap SAKTI? Apakah Pancasila merupakan sebuah benda atau wujud atau sesuatu yang dianggap sebagai objek selayaknya Keris yang dilabeli kata SAKTI menjadi KERIS SAKTI?. Dimanakah letak sebenarnya Kesaktian Pancasila itu sementara Pancasila sendiri setuju atau tidak setuju tidak lagi ditaati sebagai sebuah jiwa yang menyatu pada diri bangsa Indonesia. Dimanakah letak Kesaktia Pancasila itu sementara Pancasila sendiri memiliki arti dan makna yang berbeda di setiap rezim yang memimpin negara ini? Lantas, apakah ada perbedaan kesaktian antara Kesaktian Pancasila dengan istilah KERIS SAKTI, KERA SAKTI, PUSAKA SAKTI, BIMA SAKTI, atau SAKTI MANDRAGUNA misalnya? Sekedar info, ternyata terminology kata SAKTI Sakti (kekuatan, kekuasaan atau energi) adalah sebuah konsep ajaran agama Hindu atau perwujudan dari aspek kewanitaan Tuhan (Baca: Dewata).
Sementara itu, lambang burung Garuda yang sering menjadi satu kesatuan frase dengan kata Pancasila menjadi GARUDA PANCASILA ternyata memiliki dasar filosofis tersendiri yang oleh beberapa kalangan disebut berasal dari akarYahudi.
“Simbol negara “burung Garuda” juga dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai simbol Yahudi. Pemilihan simbol “burung Garuda” sendiri sebagai lambang negara adalah sebuah kontroversi karena hanya ditentukan oleh segelintir orang saja tanpa memperhatikan aspirasi mayoritas rakyat Indonesia. “Burung Garuda” memang ada dalam mitologi Hindu yang pernah menjadi agama mayoritas Indonesia di masa lalu, namun pada masa kemerdekaan, Hindu tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan.”
“Agama Islam sendiri sebagai agama mayoritas rakyat Indonesia setelah era Hindu juga tidak mengenal simbol “burung Garuda”. “Burung Garuda” juga tidak pernah benar-benar ada karena hanya sebuah mitos, berbeda dengan burung elang botak yang merupakan binatang asli Amerika. Karena bukan simbol asli bangsa Indonesia maka tidak ada lain simbol “burung Garuda” mengadopsi simbol-simbol kebudayaan asing yang memang memuja-muja simbol “burung mirip Garuda”, yaitu Yahudi yang gerakan Fremasonry-nya sangat berpengaruh sampai saat ini.”
Pengaruh Yahudi di Indonesia itu dimulai pada abad 18 melalui gerakan perkumpulan rahasia Vritmetselarij atau Freemasonry yang berkembang di kalangan elit Indonesia baik di kalangan orang-orang Belanda maupun pribumi: pejabat, bangsawan, pengusaha, ilmuwan, seniman/sastrawan dan kalangan intektual lainnya. Gerakan tersebut selanjutnya berkembang menjadi beberapa cabang seperti Himpunan Theosofi, Moral Rearmemant Movement (MRM) dan Ancient Mystical Organization of Ancient Mystical Organization of Sucen Cruiser (Amorc) dan sebagainya.
Orang-orang yang merancang simbol “burung Garuda” sebagai simbol negara adalah Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantoro dan Muhammad Yamin. Ketiganya adalah pengikut gerakan Vrijmeselarij dan Theosofi. Sedangkan Presiden Soekarno yang menetapkan simbol “burung Garuda” sebagai lambang negara juga berada dalam pengaruh Fremasonry melalui ayahnya yang merupakan anggota Perhimpunan Theosofi Surabaya.
Untuk menguak korelasi simbologi antara Simbol-Simbol Negara RI dengan Yahudi dan Zionisme silakan banyak membaca buku-buku karangan Herry Nurdi (Jejak Freemason & Zionis Di Indonesia, Penerbit Cakrawala); Ridwan Saidi (Fakta dan Data Yahudi di Indonesia), dan Muh Thalib & Irfan S Awwas (Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila, Penerbit Wihdah Press).
Kesimpulannya, pernyataan mengenai Pancasila dan segenap Lambangnya digali dari prinsip-prinsip luhur bangsa Indonesia ternyata tidak seperti yang diungkapkan dalam buku-buku formal di Toko Buku dan Perpustakaan atau yang pernah diajarkkan guru-guru PMP, P4, dan PPKn di bangku sekolah. Justru banyak budaya-budaya asing dan filosofis agama tertentu yang menjiwainya. Bahkan unsur Yahudi yang merupakan agama yang tidak diakui justru banyak memainkan peran pentingnya
More about → Sejarah 1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila

Makna dibalik Gangnam Style

Diposting oleh Unknown

Gangnam Style - Korea Selatan adalah salah satu negara Asia yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Tak dipungkiri lagi, peningkatan standar hidup ini, mempengaruhi sebagian gaya hidup masyrakat. sebagian dari mereka akan bergaya hidup mewah. Sebagian dari mereka akan akan memulai menghabiskan uang mereka, dan memburu barang barang mewah.


Tidak ada tempat lain yang dinilai dapat menyamai kemewahan daerah Gangnam, daerah yang menjadi simbol kesejahteraan dan dan kemewahan di negara itu.Gangnam adalah sebuah daerah di Korea Selatan yang mempunyai perekonomian yang sangat menonjol, itulah yang menyebabkan kota ini menjadi simbol kemakmuran di korsel.

Di Gangnam mempunyai budaya hidup mewah, di Gangnam sebagian pemudanya bergaya mewah, tetapi bagi yang tidak sanggup mengikuti bergaya mewah, mereka rela untuk gali lubang tutup lubang, karena merka tidak ingin di pandang rendah.

Gangnam juga menjadi surganya untuk operasi plastik, karena hampir 90 persen dari 300-an klinik operasi plastik di Korea Selatan ada disini. Namun tidak begitu menurut Park Jae Sang. Dalam videonya ini dia mencibir, bagaimana orang-orang Korea tergila-gila pada penampilan fisik yang “sempurna”.

Di Korea Selatan, ada sebuah lelucon mengenai 'wanita kecap asin' atau Doenjangnyeo. Istilah ini diperuntukan untuk wanita yang rela memakan mie murah seharga belasan ribu rupiah tapi selalu menikmati kopi mahal seperti Starbucks yang berharga berkali-kali lipat lebih mahal. Artinya, wanita-wanita ini hanya mau mengeluarkan sedikit uang untuk kebutuhan pokok, namun berani membayar mahal untuk kebutuhan tambahan, contohnya meminum kopi. Karena banyaknya orang yang 'terjangkit' oleh fenomena ini, toko kopi menjadi menjamur dimana-mana, terutama di daerah elit seperti Gangnam.

Isi lagu ini, menceritakan seorang pemuda yang menggoda gadis seksi, dan mengaku sebagai pemuda gangnam. Dan seorang gadis yang suka minum kopi, berpakaian seksi, memakai pakaian bagus, dan melakukan kegiatan santai ala orang kaya.
More about → Makna dibalik Gangnam Style

Kembali ke Index Topik Pilihan Presiden Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2012

Diposting oleh Unknown

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Senin (1/10/2012) pukul 08.00 WIB. Tahun ini, rangkaian Hari Kesaktian Pancasila mengangkat tema "Kesaktian Pancasila Tonggak Negara Paripurna".
Upacara juga diikuti Wakil Presiden Boediono, jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga negara, duta besar perwakilan negara sahabat, pimpinan Tentara Nasional Indonesia dan Polri, serta ratusan pelajar.
Rencananya, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas akan membacakan naskah Pancasila. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie akan bertindak atas nama Bangsa Indonesia untuk membulatkan tekad mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila demi keutuhan NKRI. Adapun Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman akan membacakan naskah Pembukaan UUD 1945.
Sebelumnya, pemerintah telah meminta kepada seluruh jajarannya, swasta, dan masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang pada 30 September 2012 dan satu tiang penuh pada hari ini. Pemerintah juga meminta agar berbagai pihak menggelar upacara.
Peringatan Hari Pancasila Sakti dilakukan setelah tragedi berdarah pada 30 September 1965 yang menewaskan enam petinggi TNI, yaitu Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, serta ajudan Jenderal TNI AH Nasution, Lettu Pierre Tendean, dan putrinya Ade Irma Suryani Nasution.
More about → Kembali ke Index Topik Pilihan Presiden Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2012

Western Digital Bikin Hard Disk Ekstra Lega

Diposting oleh Unknown

Kamis lalu produsen media storage Western Digital meluncurkan produk hard disk berkapasitas 4 TB (4000 GB) . Dua model yang tersedia mengusung jenis interface berbeda, yaitu SATA  6 Gbps dan SAS (Serial Attached SCSI) 6 Gbps.

Khusus model dengan interface SAS, disediakan kapabilitas dual-port. Baik model dengan interface SATA maupun SAS menggunakan 5 buah piringan yang masing-masing berkapasitas 800 GB dengan  kecepatan rotasi 7200 RPM. Berikut ini spesifikasi lengkapnya.

Oleh Western Digital, produk hard disk berkapasitas 4 TB ini diklaim merupakan pilihan ideal untuk "server, fasilitas storage, video kamanan, dan keperluan-keperluan lain yang membutuhkan kapasitas penyimpanan besar".

Lebih tepatnya, hard disk dengan ruang penyimpanan ekstra lega tersebut ditujukan untuk keperluan yang bersifat "nearline", di mana kapasitas penyimpanan besar dibutuhkan tetapi data tidak perlu sering diakses.

Nearline berada di antara keperluan "immediate access" pada komputer yang semakin didominasi oleh SSD, serta keperluan pengarsipan jangka panjang yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk mengambil data.

Soal harga, Western Digital mematoknya di angka cukup tinggi, yaitu pada kisaran 459-479 dollar AS.

Sebelum ini, salah satu pabrikan hard disk lainnya, Hitachi, telah lebih dulu meluncurkan hard disk 4 TB pertama di dunia pada Desember 2011.
More about → Western Digital Bikin Hard Disk Ekstra Lega

Hujan Mateor di bulan Oktober 2012

Diposting oleh Unknown


Fenomena hujan bintang atau hujan meteor memang sangat jarang terjadi di Indonesia tapi fenomena alam seperti ini sudah bisa diprediksi kapan terjadinya dikarenakan para ilmuwan sekarang sudah mampu menganalisa penyebab terjadinya hujan bintang yang terjadi secara periodik.

Terjadinya hujan bintang dimulai dari kumpulan meteor yang meluncur masuk ke dalam lapisan atmosfir bumi dengan jumlah yang banyak.

Pada saat itu meteor-meteor yang bertebaran di langit menciptakan fenomena alam seperti curahan air hujan yang memijarkan cahaya dikarenakan oleh gesekan batu-batu meteor tersebut dengan lapisan atmosfir bumi.

Tercatat fenomena hujan bintang tidak pernah membahayakan penduduk bumi, melainkan menjadi sebuah peristiwa yang dinanti-nanti karena pada saat fenomena berlangsung pemandangan di langit menjadi begitu menakjubkan.

Langit menjadi ramai oleh cahaya sekumpulan meteor yang sedang beterbangan. Tak heran ketika fenomena ini terjadi banyak orang yang berusaha untuk bisa melihatnya secara langsung.

Tak ada salahnya mulai dari sekarang Anda mempersiapkan camera atau gadget kesayangan Anda bersama teman-teman terdekat untuk ikut mengabadikan fenomena hujan bintang yang diprediksi akan terjadi di Indonesia pada bulan mendatang.
More about → Hujan Mateor di bulan Oktober 2012

Kata depan ( Preposisi )

Diposting oleh Unknown

Preposisi (Bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") atau kata depan adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan.

Penggolongan

Cara penggolongan preposisi bervariasi tergantung dari rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara penggolongan yang dapat digunakan:
  1. Preposisi yang menandai tempat. Misalnya di, ke, dari.
  2. Preposisi yang menandai maksud dan tujuan. Misalnya untuk, guna.
  3. Preposisi yang menandai waktu. Misalnya hingga, hampir.
  4. Preposisi yang menandai sebab. Misalnya demi, atas.

Di, ke, dari

Penulisan preposisi ini ditulis terpisah, contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya. Kesalahan yang paling umum adalah penulisan bentuk "dimana", yang seharusnya ditulis "di mana".
Perkecualian untuk hal ini adalah:
  • kepada
  • keluar (sebagai lawan kata "masuk", untuk lawan kata "ke dalam", penulisan harus dipisah, "ke luar")
  • kemari
  • daripada

Di mana, yang mana

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan "Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada."
Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk "di mana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", "dengan mana", "yang mana", dan sebagainya)
Penggunaan "di mana", "yang mana", dll. sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu, dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, penggunaan bentuk "di mana" maupun "yang mana" harus dihindari. termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Kaidah tata bahasa Indonesia memiliki kosakata yang cukup untuk menterjemahkan "who", "where", "which", "whom" tanpa menggunakan kata "di mana". Contoh-contoh.
  • di mana → tempat
    1. Kami ke restoran di mana teman merayakan pesta ulang tahunnya. (seharusnya) Kami ke restoran tempat teman merayakan pesta ulang tahunnya.
  • di mana → dengan
    1. Acara berikutnya adalah “Kuis Remaja” di mana Kris Aria sebagai presenternya. (seharusnya) Acara berikutnya adalah “ Kuis Remaja”dengan Kris Aria sebagai presenternya.
  • di mana → yang
    1. Pemerintah memberi bantuan kepada korban di mana mereka tertimpa bencana alam. (seharusnya) Pemerintah memberi bantuan kepada korban yang tertimpa bencana alam.
  • di mana → (subklausa)
    1. Perusahaan itu mengadakan pelatihan di mana karyawan dibina untuk menjadi tenaga terampil. (seharusnya) Perusahaan itu mengadakan pelatihan; dalam pelatihan itu karyawan dibina untuk menjadi tenaga terampil.
  • yang mana → yang
    1. Penanggung jawab surat kabar itu akan dituntut untuk berita yang mana dianggap melecehkan artis itu. (seharusnya) Penanggung jawab surat kabar itu akan dituntut untuk berita yang dianggap melecehkan artis itu.
  • yang mana → sehingga/dan
    1. Koperasi itu harus berjalan dengan baik yang mana kebutuhan setiap anggota dapat dipenuhi dari sini. (seharusnya) Koperasi itu harus berjalan dengan baik sehingga kebutuhan setiap anggota dapat dipenuhi dari sini.
    2. Wisatawan mancanegara meningkat terus yang mana negara tujuan wisata pun bertambah. (seharusnya) Wisatawan mancanegara meningkat terus dan negara tujuan wisata pun makin bertambah.
Kekisruhan ini mungkin disebabkan pengaruh oleh Ejaan Soewandi (1947) yang mengharuskan penulisan diserangkai dengan kata yang mengikutinya, baik sebagai kata depan maupun sebagai awalan.
Penggunaan "di mana" (selalu ditulis terpisah) yang tepat hanyalah dalam sebagai kata tanya dalam kalimat tanya, sebagai kata penghubung yang menyatakan tempat, dan dalam bentuk "di mana-mana". Contoh
  • Di mana ia menginap?
  • Kami akan berunding di mana ia akan menginap.
  • Di mana ia menginap, di situ keluarganya menginap.
  • Ia dapat menginap di mana-mana.
More about → Kata depan ( Preposisi )